Selasa, 10 Januari 2012

Restoran yang bergaya memanfaatkan barang Bekas Industri

Gaya hidup hijau terus dikampanyekan. Mulai dari penggunaan wadah yang ramah lingkungan hingga memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang masih bisa dipakai. Restoran Never Been Better memilih menggunakan barang bekas industri untuk perangkat rumah makannya. Terlihat unik dan bernilai seni tinggi.
DI restoran Never Been Better yang be rada dijalin Kemang Selatan, Jakarta Selatan, dari depan terlihat boks ncon dipasang di atas pallet plastik yang biasanya untuk dijadikan alas barang-barang berat. Semula kami berpikir tempat itu bukanlah restoran, tetapi semacam show room yang menyediakan barang-barang yang berkenaan dengan dunia industri.
Saat melongok Iebih dalam, berjajar beberapa meja dan kursi yang menandakan tempat itu adalah sebuah restoran.
Di dalamnya seluruh komponen menggunakan barang-barang yang reuse atau barang bekas yang dipakai lagi. Umumnya barang yang digunakan merupakan barang-barang industri. Seperti meja makannya sebagian besar terbuat dari papan bekas gulungan kabel yang diambil bagian atasnya (bulatan).
Lalu ada juga meja yang terbuat dari beton dan kala mejanya dari besi yang diletakkan di atas rel sehingga bisa digeser-gcser dengan mudah untuk menyatukan dengan meja lainnya.
Untuk mengimbangi tinggi meja, sofa panjang yang dilapisi kain biru tanpa kaki diletakkan di atas pallet plastik. Yang pasti kekuatan pallet sudah teruji untuk menahan beban barang-barang berat.
Papan peti kemasSementara itu potongan papan peti kemas dan seng beton (galvanis) juga menjadi dinding yang kokoh untuk restoran itu. Dan, di salah satu dinding yang terbuat dari papan hitam, disediakan khusus untuk anak-anak yang ingin menggambar menggunakan kapur tulis.
Dapurnya berkonsep open kitchen, dengan tiang-tiang yang berdiri tegak di atas meja. Di tempat itu tamu juga bisa makan dan mclih.it langsung proses pembuatan masakannya. Meja dapurnya terbuat dari batako. Semua dibuat alami, tidak ada cat khusus.
Yang unik lagi, lampu hiasnya terbuat dari susunan gantungan baju dari bahan kawat tebal. Sangat kreatif. Sementara itu lam* pu di depan koridor kamar mandi berasal dari beberapa jirigen air berukuran besar.
Kalau mau mencari kamar mandi, jangan harap akan menemukan petunjuk dengan tulisan toilet. Carilah petunjuk dengan kata-kata emergency room.
Di depan toilet ada wastafel yang terbuat dari drum kaleng bekas minyak dengan keran cukup besar. Anda bisa membayangkan seperti berada di pengeboran minyak.
Di dekat pintu masuk terdapat lemari hidran, yang biasanya untuk menyimpan selang hidran dimanfaatkan sebagai lemari pe-nyimpanan buku dan peralatan lainnya.
Sedangkan di bagian teras, setiap mejanya terdapat mangkuk melamin besar berwana hijau yang menyatu dengan meja, dimanfaatkan untuk menaruh keripik singkong dan keripik kentang yang dikemas plastik, sebagai camilan selagi menunggu pesanan datang.
Pemilik restoran ini sekum-pulan anak muda yang kebetulan semuanya lulusan dari Intitut Teknologi Bandung (UB). Mereka punya segudang kreativitas untuk menciptakan restoran dengan nuansa berbeda dengan tempat lainnya.
"Kami memang ingin menampilkan yang beda dari lainnya. Apalagi di daerah Kemang ini, kalau tidak dibuat beda mana bisa menarik pengunjung. Konsepnya memang memanfaatkan barang-barang bekas, tetapi jadinya lebih ke industrial, kebanyakan barangnya dari bekas proyek," ujar Alfonso, manajer operasional restoran itu.
Meski menggunakan barang-barang bekas, temyata tidak mudah juga untuk mendapatkannya. Perlu beberapa bulan untuk mengumpulkan barang. Menurut Alfonso, seharusnya awal Januari 2011 sudah dibuka, tetapi baru terealisasi pada awal Maret.
Demi kenyamanan pengunjung dalam berselancar di dunia maya, restoran dilengkapi juga dengan Wi-Fi. Anda pun tinggal membawa laptop sendiri.
Sedangkan untuk penamaan Never Been Better diartikan sebagai tidak ada tempat yang lebih baik dari restoran itu. "Semoga saja memang seperti itu ya," ujar Alfonso.
Makanan sehat
Berbicara soal makanan, konsepnya menyediakan camilan danmakanan berat yang sehat. Anda bisa memilihnya langsung di buku menu yang dibuat dengan unik.
Buku menu itu terbuat dari kain kanvas yang dibaliknya ditempeli karton tebal terpotong-potong. Buku menu bisa dilipat dengan gaya apa pun tanpa harus merusak bentuknya.
Sebagian besar menu yang dihadirkan juga merupakan menu rumahan. Ada masakan Indonesia, ada juga bergaya internasional. Konsep makanan sehat ini dihadirkan karena salah satu pemiliknya, Ashni Sastrosubroto, pernah divonis mengidap kanker darah stadium IV dan telah dinyatakan sembuh pada 2009.
"Itu sebabnya aku tidak mau sembarangan dalam menyajikan menu-mcnunya. Harus yang sehat tapi tetap enak rasanya. Seperti keripik singkong dan kentang itu bikinan sendiri," ujar Ashni yang akrab disapa Achie ini.
Untuk pemilihan menu memang menjadi urusan sang juru masak. Kami sempat mencicipi pasta agliolio. Pasta dengan bumbu ringan ini tidak enek dibandingkan dengan pasta yang berbumbu bolognaise.
Pasta ini dibumbui dengan rempah-rempah seperti basil, oregano, bay leaf, daun bawang, bawang bombay, dan minyak zaitun. Semua bumbu ditumis dan dicampur dengan spageti serta ditaburi dengan keju permesan.
Coba juga nasi goreng hijau ala Never Been Better. Ada dua versi dari nasi goreng itu. Versi pertama nasi gorengnya berwarna putih pucat dibumbui seperti nasi goreng kampung (bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, dan terasi) dan ditaburi teri medan tawar sebagai perambah rasa gurih. Arti hijau disini berarti nasi goreng sehat. Sedangkan versi kedua, nasigoreng hijau dengan campuran bumbu cabai hijau besar, jahe, daun jeruk, dan sari jeruk lemon. Warnanya agak kehijauan dan diberi taburan kacang tanah.
Coba juga makanan ringannya, antara lain bala-bala (sebutan bakwan taogc di Bandung), tempe mendoan, roti panggang, dan banana balls. Yang terakhir ini unik, pisang goreng modifikasi yang terbuat dari pisang kcpok dan dibungkus dengan adonan pancake lalu diberi isian keju, cokelat atau stawberi, dan digoreng.
Beberapa makanan yang kami sajikan memang kreasi sang juru masak, apa yang dimasak lalu dicoba. Kalau enak baru disajikan. Sebagian juga terinspirasi beberapa jajanan dari Bandung," kata Achie.
Tersedia juga masakan Indonesia antara lain nasi ayam cabai hijau, nasi dendeng jambi, lotek (seperti gado-gado), cah kangkung. Lalu ada juga es krim goreng, terbuat dari roti yang di-balurkan tepung roti. Sebelumnya roti sudah diisi dengan es krim vanila. Kemudian digoreng. Saat dimakan rasa dingin, manis dan gurih menjadi sesuatu yang beda.
Sedangkan minumannya yang segar coba saja limun timun, Minuman ini terbuat dari perasan lemon segar, ditambah dengan air gula (simple sirup) dan insan timun serta es batu.
Harga pun relatif murah untuk ukuran sebuah restotan di kawasan Kemang. Untuk sepor-si banana balls dibanderol Rp 3.500, es krim goreng Rp 17.000. Penasaran? Silakan mencoba

1 komentar: